Ngentot Ibu Kosan Sampai Crot Lemes

Ngentot Ibu Kosan Sampai Crot Lemes

Ngentot Ibu Kosan Sampai Crot Lemes, Ngentot Ibu Sangek Dikamar Sampe Puas, Ngentot Ibu Montok Seharian, ngentot ibu tiri, Anak ngentot dengan ibu istri di rumah sepi, Bokep Jepang Ngentot Dengan Kakak Dan Ibu Kandung, Anak Ngentot Ibu Kandung, Anak Ngentot Ibu Kandung, Ngentot Ibu Kandung saat bapak meleng, Ngentot Ibu Kandung seksi, Ngentot Ibu Kandung cantik, Ngentot Ibu Kandung lagi tidur

Ngentot Ibu Kosan Sampai Crot Lemes

Wawan, seorang bujangan berumur 28 tahun yang ketika ini sedang kebingungan. Pasalnya, panggilan kegiatan dari suatu perusahaan dimana dia melamar begitu mendadak. jangka masa-masa panggilan tersebut selama empat hari, dimana dia mesti mengerjakan tes wawancara.

Akhirnya dia memaksa berangkat besoknya, dengan destinasi penginapanlah dimana dia mesti . Dengan bekal yang lumayan malah berlebih mungkin. Sudah 2 hari ini dia bermukim di penginapan itu. Kemudian dengan bergegas dia mengunjungi alamat tersebut. Sampai pada akhirnya, sampailah dia di depan pintu home yang dimaksud itu.

Perlahan Wawan mengetuk pintu, tidak lama lantas terdengar suara kunci terbuka.
Sejenak lantas Wawan telah duduk di kursi ruang tamu.

Terlihat sekali suasana ruang tamu yang sejuk dan asri. Tiba-tiba Wawan dikejutkan oleh suara perempuan yang masuk ke ruang tamu.
“Selamat siang, terdapat yang butuh saya bantu..?”
Terhenyak Wawan dibuatnya, umurnya selama 40 tahunan, cantik, elegan dan berwibawa.

“Oh.., eh.. selamat siang,” Wawan tergagap lantas dia melanjutkan, “Begini Bu..”
“Panggil saya Bu Mira..,” tukas wanita tersebut menyahut.
“Hm.., o ya, Bu Mira, tadi saya liat surat kabar yang tertulis bahwa disini terdapat kamar guna disewakan.”
“Oh, ya. Hm.., siapa nama anda..?”
“Wawan Bu,” sahut Wawan seketika.

“Memang benar disini terdapat kamar disewakan, butuh diketahui oleh Nak Wawan bahwa di home ini ada tiga orang, yaitu, saya, anak saya yang masih SMA dan mbok wanita yang tadi bicara sama Nak Wawan, kami memang meluangkan satu kamar kosong guna disewakan, selain supaya kamar tersebut tidak kotor pun rumah ini biar tambah ramai penghuninya.” dengan singkat Bu Mira menyatakan semuanya.

“Baiklah Bu Mira, saya akan bayar sewa guna enam bulan,” kata Wawan.
“Oke, tunggu sebentar, Ibu akan bayar kuitansinya.”
Akhirnya sesudah mengemasi dagangan di penginapan, lah Wawan disitu dengan Bu Mira, Ida anak Bu Mira dan Bik Sumi mbok Bu Mira.

agen dominoqq

Sampai pada suatu ketika malam Minggu, home kelihatan sepi, maklum saja, Ida anak Bu Mira istirahat di neneknya, Bik Sumi balik ke dusun selama dua hari, katanya terdapat anaknya yang sakit. lah Wawan dan Bu Mira sendirian di rumah. Tapi Wawan telah mempersiapkan teknik bagaimana melampiaskan hasratnya terhadap Bu Mira. Lama Wawan di kamar, jam mengindikasikan pukul delapan malam, dia menyaksikan Bu Mira menyaksikan TV di ruang tengah sendirian. Akhirnya sesudah mantap, Wawan pun datang dari kamarnya mengarah ke ke ruang tengah.

“Selamat malam, Bu, boleh saya temani..?” sejenak Wawan berbasa-basi.
“Oh, silakan Nak Wawan..,” mempersilakan Bu Mira untuk Wawan.
“Ngomong-ngomong, tidak keluar nih Nak Wawan, malam Minggu loh, masa di home ajjh, apa tidak bosan..?” tanya Bu Mira kemudian.
“Ah, nggak Bu, lagian pergi kemana, seringkali juga malam Minggu di home saja,” jawab Wawan sekenanya.

“Oh, ya, Bu, boleh saya buatkan minum..?” tanya Wawan tiba-tiba.
“Lho, tidak usah Nak Wawan, kok repot-repot..,”
“Ah, nggak apa-apa, sekali-kali saya yang buatkan minuman guna Ibu, saja yang tidak jarang kali membuatkan minuman guna saya.”
“Hm.., boleh bila begitu, Ibu hendak minum teh saja,” kata Bu Mira seraya tersenyum.
“Baiklah Bu, bila begitu tunggu sebentar.” segera Wawan bergegas ke dapur.

Tidak lama lantas Wawan telah kembali,
“Silakan Bu, diminum, mumpung masih hangat..!”
“Terima kasih, Nak Wawan.”
Akhirnya sesudah sekian lama terdiam lagi, tampak Bu Mira telah mulai mengantuk, tidak lama lantas Bu Mira telah tertidur di kursi dengan suasana memakai daster tipis yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh dan payudaranya yang indah. Tersenyum Wawan melihatnya.

agen bandarq

“Akhirnya aku berhasil, ternyata obat tidur yang kubeli di apotik siang tadi benar-benar manjur, sejenak Wawan liat Bu Mira, tubuh yang pasrah yang siap dipermainkan oleh pria manapun. Timbul gejolak kelelakian Wawan yang normal tatkala menyaksikan tubuh estetis yang tergolek lemah itu. Diremas-remasnya dengan lembut payudara yang montok, rerdengar desahan perlahan dari mulut Bu Mira, spontan Wawan tarik kedua tangannya.

“Mengapa mesti gugup, Bu Mira telah terpengaruh obat tidur tersebut sampai sejumlah saat nanti,” gumam Wawan dalam hati.
Akhirnya tanpa pikir panjang lagi, Wawan lantas membopong tubuh Bu Mira menginjak kamar Wawan sendiri. Digeletakkan dengan perlahan tubuh yang estetis, sesaat lantas Wawan telah mengunci kamar.

“Malam ini aku akan merasakan tubuhmu yang estetis itu Bu Mira,” kata Wawan dalam hati. Perlahan-lahan, mulai dari daster, BH, lantas celana dalam, hingga akhirnya setelah seluruh terlepas, Wawan menyingkirkannya ke lantai. Telanjang bulat tanpa sehelai benang juga yang menutupi tubuhnya. Diamati oleh Wawan mulai dari wajah yang cantik, payudara yang montok menyembul indah, perut yang ramping, dan terakhir paha yang mulus dan putih dengan gundukan daging di pangkal paha yang tertutup oleh rimbunnya rambut.

Satu-persatu Wawan melepas pakaian yang melekat di badannya, telanjang bulat, polos, tanpa terdapat sehelai benang juga yang menutupi tubuhnya. Terlihat kemaluan Wawan yang telah mengencang hebat siap dihunjamkan ke dalam vagina Bu Mira. Tersenyum Wawan menyaksikan rudalnya yang panjang dan besar, bangga sekali dia memiliki rudal dengan format begitu.

Dengan posisi telungkup menindih tubuh Bu Mira yang telanjang itu, lantas dia memegang rudalnya dan pelan-pelan memasukkannya ke dalam vagina Bu Mira. Wawan menikmati vagina yang masih rapat sebab sudah satu tahun tidak pernah tersentuh oleh laki-laki. Akhirnya sesudah sekian lama, rudal Wawan telah masuk semuanya ke dalam vagina Bu Mira.

situs qq

Ketika Wawan menghunjamkan rudalnya ke dalam vagina Bu Mira hingga masuk semua, tersiar rintihan kecil Bu Mira, “Ah.., ah.., ah..!”
Tapi Wawan tidak menghiraukannya, dia kemudian menggerakkan kedua pantatnya maju munjur dengan teratur, pelan-pelan namun pasti.
“Slep.., slep.., slep..,” terdengar masing-masing kali saat Wawan mengerjakan aktivitasnya itu, dibuntuti dengan bunyi ranjang yang berderit-derit.

“Ser.., ser.., ser..,” Wawan menikmati cairan yang datang dari ujung kemaluannya mengalir ke dalam vagina Bu Mira.
“Oh.. ah.. oh.. Bu Mira.., oh..!” tersiar keluhan panjang dari mulut Wawan.
Setelah tersebut Wawan menikmati tubuhnya yang lelah sekali, lantas dia membaringkan tubuhnya di samping tubuh Bu Mira dengan posisi mendekap tubuh Bu Mira yang sudah dinikmatinya itu.

“Oh, dimana aku, kenapa gelap sekali..?”
Sebentar lantas suasana menjadi hening.
“Dan, kenapa tanganku diikat, dan, oh.., tubuhku pun telanjang, kemana pakaianku, apa yang terjadi..?” tersiar suara Bu Mira pelan dan serak.

“Ini saya..,” gumam Wawan lirih.
“Siapa, kamukah Yodi..? Mengapa anda kembali lagi padaku..?” sahut Bu Mira agak keras.
“Bukan, ini saya Bu.., Wawan..,” Wawan berterus terang.

“Wawan..!” kaget Bu Mira mendengarnya.
“Apa yang anda lakukan pada Ibu, Wawan..? Bicaralah..! Mengapa Ibu anda perlakukan laksana ini..?” tanya Bu Mira kemudian.

Kemudian Wawan bercerita mulai dari mula sampai akhir, “Wawan.., Wawan.., Ibu memang mengharapkan laki-laki yang dapat memuaskan hasrat birahi Ibu, namun bukan begini caranya, tentu Ibu bakal memberikannya kepadamu, sebab Ibu pun merasakan bagaimana tidak enaknya hidup sendiri tanpa laki-laki.”

“Saya malu bila Ibu menampik saya.”
“Tapi minimal kan, berterus terang tersebut lebih sopan dan terhormat daripada mesti memperlakukan Ibu laksana ini.”
“Saya tahu Bu, saya salah, saya siap menerima sanksi apapun, saya siap diusir dari rumah ini atau apa saja.”

agen pokerqq

“Oh, tidak Wawan. Sekarang Ibu bukan lagi terpengaruh oleh obat tidur tersebut lagi, Ibu hendak kamu melakukannya lagi terhadap Ibu apa yang anda perbuat tadi, Ibu pun menginginkannya.
“Benar Bu..?” tanya Wawan kaget.
“Benar Wawan, kini nyalakanlah lampunya, biar Ibu dapat melihatmu seutuhnya,” pinta Bu Mira kemudian.

“Oh Wawan, tubuhmu begitu atletis. Kemarilah, nikmatilah tubuh Ibu, Ibu menginginkannya Wawan..! Ibu hendak kamu memuaskan hasrat birahi Ibu, Ibu mau malam ini Ibu benar-benar terpuaskan.”

Perlahan Wawan mendekati Bu Mira, diacuhkan wajah yang tambah cantik tersebut karena memang situasi Bu Mira yang telah tersadar, lain dengan tadi saat Bu Mira masih tidak sadarkan diri. Diusap-usapnya dengan lembut tubuh Bu Mira yang polos dan estetis itu, mulai dari paha, perut, hingga payudara. Terdengar suara Bu Mira menggelinjang keenakan.

“Terus.., Wawan.., ah.. terus..!” tampak tubuh Bu Mira bergerak-gerak dengan lembut mengekor sentuhan tangan Wawan.
“Tapi, Wawan, Ibu tidak mau dalam suasana begini, Ibu mau kamu melepas tali pengikat tangan Ibu, biar Ibu dapat menyentuh tubuhmu juga..!” pinta Ibu Mira memelas.
“Baiklah Bu.”

“Nah, begini kan enak..,” kata Bu Mira.
Sesaat lantas ganti tangan Bu Mira yang meremas-remas dan unik maju mundur kemaluan Wawan, tidak lama lantas kemaluan Wawan yang diremas-remas oleh Bu Mira mulai mengencang dan mengeras. “Oh.., Wawan, kemaluanmu begitu keras dan kencang, begitu panjang dan besar, hendak Ibu memasukkannya ke dalam vagina Ibu.” kata Bu Mira lirih seraya terus mempermainkan kemaluan Wawan yang telah membesar itu.

Diperlakukan sedemikian rupa, Wawan dapat mendesah-desah menyangga keenakan.
“Bu Mira, oh Bu Mira, terus Bu Mira..!” pinta Wawan memelas.
Semakin hebat permainan seks yang mereka kerjakan berdua, semakin hot, tersiar desahan-desahan dan rintihan-rintihan kecil yang datang dari mulut mereka berdua.

bandar sakong

“Oh Wawan, naiklah ke atas tubuhku, luapkan hasratmu, puaskan diriku, berikanlah kenikmatanmu pada Ibu..! Ibu telah tak tahan lagi, ibu telah tak sabar lagi..” desis Bu Mira memelas dan memohon. Sesaat lantas Wawan telah naik ke atas, langsung menindih tubuh Bu Mira yang telanjang itu, seraya terus menciumi dan meremas-remas payudara Bu Mira yang estetis itu.

“Oh, ah, oh, ah.., Wawan oh..!” tidak terdapat kata yang beda yang dapat dibacakan Bu Mira yang selain mengerang dan mendesah-desah, begitu pun dengan Wawan yang dapat mendesis dan mendesah, seraya menggosok-gosokkan kemaluannya di atas permukaan vagina Bu Mira.

Sampai sebuah ketika, tangan Bu Mira memegang kemaluan Wawan dan memasukkannya ke dalam vaginanya. Pelan dan tentu Wawan mulai memasukkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mira, seraya kedua kakinya bergerak menggeser kedua kaki Bu Mira supaya merenggang dan tidak merapat, lalu mengapit kedua kaki Bu Mira dengan kedua kakinya guna terus telentang. Akhirnya sesudah sekian lama berusaha, sebab memang tadi Wawan telah memasukkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mira.

“Ah.., ah.., oh.. Wawan.., tidak boleh lepaskan, teruskan, teruskan, tidak boleh berhenti Wawan, oh.., oh..!” tersiar rintihan dan desahan nafas Bu Mira yang keenakan.
Lama Wawan mengerjakan aktivirasnya itu, unik dan memasukkan kemaluannya terus-menerus ke dalam vagina Bu Mira. Sambil mulutnya terus menciumi dan mengulum kedua puting payudara Bu Mira.

“Oh.., ah.. Bu Mira, oh.., anda memang cantik Bu Mira, bakal kulakukan apa saja untuk dapat memuaskan hasrat birahimu, ih.., oh..!” desis Wawan keenakan.
“Oh.., Wawan.., bahagiakanlah Ibu malam ini dan seterusnya, oh Wawan.., Ibu telah tak tahan lagi, oh.., ah..!”
Semakin cepat gerakan Wawan unik dan memasukkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Mira.

Semakin panas permainan seks mereka berdua, hingga akhirnya Bu Mira merintih, “Oh.., ah.., Wawan.., Ibu telah tak tahan lagi, Ibu telah tak powerful lagi, Ibu inginkan keluar, oh Wawan.., anda memang perkasa..!”.

Baca Juga :Ngetot Saman Partner Kerja Suamiku

“Keluarkan Bu..! Keluarkanlah..! Puaskan diri Ibu..! Puaskan hasrat Ibu hingga ke puncaknya..!” desis Wawan menimpali.
“Mari anda keluarkan bersama-sama Bu Mira..! Oh, aku pun sudah tak tahan lagi,” desis Wawan kemudian.

Setelah berbicara begitu, Wawan meningkatkan genjotannya terhadap Bu Mira, terus-menerus tanpa henti, semakin cepat, semakin panas, tampak sekali kedua tubuh yang basah oleh keringat dan telanjang tersebut menyatu begitu serasi dengan posisi tubuh Wawan menindih tubuh Bu Mira.

“Ser.., ser.., ser..!” terasa datang cairan kenikmatan datang dari ujung kemaluan Wawan mengalir ke dalam vagina Bu Mira, begitu nikmat seolah-olah seperti terbang ke langit ke tujuh, demikian pula dengan tubuh Bu Mira seolah-olah melayang-layang tanpa henti di angkasa menikmati kepuasan yang diserahkan oleh Wawan.

Sejenak kemudian, masih dengan posisi yang saling menindih, terpancar senyum kepuasan dari mulut Bu Mira.
“Wawan, terima kasih atas apa yang sudah kau berikan pada Ibu..,” kata Bu Mira seraya tangannya mengelus-elus rambut Wawan.
“Sama-sama Bu, aku pun puas sebab sudah menciptakan Ibu sukses memuaskan hasrat birahi Ibu,”.

“Selama disini, mulai malam ini dan seterusnya, Ibu hendak kamu tidak jarang kali memberi kepuasan birahi Ibu..!” pinta Ibu Mira.
“Saya berjanji Bu, saya bakal selalu menyerahkan yang terbaik untuk Ibu..,” kata Wawan kemudian.
“Tapi, ngomong-ngomong bagaimana dengan Ida dan Bik Sumi..?” tanya Wawan.
“Lho, kan dapat mencari masa-masa yang tepat. Disaat Ida berangkat sekolah pun bisa, dan Bik Sumi di dapur. Di saat dua-duanya tidur juga kita dapat melakukannya. Pokoknya setiap ketika dan masing-masing waktu..!” jawab Bu Mira manja seraya tangannya mengusap-usap punggung Wawan.

Sejenak Wawan memandang wajah Bu Mira, sesaat kemudian dua-duanya sama-sama tertawa kecil. Akhirnya apa yang mereka pendam berdua terlampiaskan sudah. Sambil dengan suasana yang masih telanjang dan posisi saling merangkul mesra, mereka kesudahannya tertidur kelelahan.